Senjata untuk Kelompok Bersenjata Papua: Jejak Abdon Kisamdu di Bandara Dekai dan Misteri Rantai Pasok
Papua-Udara pagi di Bandara Nop Goliat Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Sabtu (19/9/2026), mendadak tegang. Langkah kaki seorang penumpang yang baru saja turun dari burung besi Trigana Air penerbangan PK-YSC langsung terhenti. Tanpa sempat menghirup udara bebas di tanah Yahukimo, pria itu diringkus aparat gabungan dari pasukan Yon 462 Pasgat dan Satgas Mandala Koops TNI Habema.
Pria itu bukanlah penumpang biasa. Ia adalah Abdon Kisamdu, Wakil Komandan Batalyon TPNPB-OPM Kodap 35 Bintang Timur. Penangkapan ini bukan sekadar penegakan hukum biasa, melainkan sebuah temuan yang merajut benang merah atas misteri aliran logistik kelompok bersenjata di tanah Papua.
Tiga Kali Transfer dan Janji Temu di Kali Seng
Pangkogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, dalam keterangannya pada Selasa (22/9/2026), mengungkapkan fakta mengejutkan di balik penangkapan tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal dan jejak digital pada gawai milik Abdon, terungkap bahwa sang wakil komandan tengah bergegas untuk menuntaskan transaksi gelap pembelian senjata api.
"Di mana yang bersangkutan mengaku sudah tiga kali mentransfer uang kepada seseorang dengan inisialis BA. Sesuai kesepakatan dengan BA, Abdon Kisamdu akan menerima senjata api tersebut di Kali Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo," ungkap Lucky.
Yang menarik, Yahukimo bukanlah teritorial utama atau daerah operasi kelompok TPNPB-OPM Kodap 35 Bintang Timur yang dipimpinnya. Kehadiran Abdon di luar wilayah operasinya demi menjemput barang mematikan ini mengindikasikan adanya jaringan lintas wilayah yang terorganisir. Kini, aparat TNI tengah memburu sosok berinisial BA yang diduga kuat bertindak sebagai pemasok utama senjata tersebut.
Tertangkapnya Abdon Kisamdu seakan membuka kembali kotak pandora lama yang kerap menjadi pertanyaan besar: dari mana celah rantai pasok senjata kelompok bersenjata di Papua bermula?
Pertanyaan mendasar pun mengemuka. Apakah senjata-senjata tersebut diselundupkan secara diam-diam melintasi perbatasan negara, mengalir dari pasar gelap domestik, atau memanfaatkan celah jalur pasokan lain? Tak kalah penting, dari mana sumber pendanaan di balik tiga kali transfer uang yang dilakukan Abdon kepada BA?
Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menilai bahwa kasus-kasus penangkapan yang kerap terungkap selama ini menunjukkan satu pola krusial: pasokan senjata untuk kelompok bersenjata di Papua tidak pernah berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh rantai pasok berlapis yang rumit dan melibatkan banyak pihak.
Penangkapan di Bandara Dekai kini menjadi pertaruhan berikutnya bagi aparat keamanan untuk memutus rantai tersebut tidak hanya berhenti pada Abdon, tetapi hingga membongkar akar jaringan logistik dan finansial di baliknya.
Related Articles